Wednesday, December 14, 2005

bursa 01- earnings management dan perlindungan investor

Setelah Telkom dan Aneka Tambang, maka kini giliran Indofarma akan melakukan koreksi atas laporan keuangannya. Diperkirakan kerugian menjadi dua kali lipat dan penyebab utamanya adalah perbedaan estimasi nilai nyata dari inventory. Manajemen baru berpendapat bahwa inventory yang ada merupakan slow moving inventory dan nilainya sudah jauh lebih kecil dari yang dibukukan. Sehingga diperlukan penghapusan nilai buku agar mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Tindakan emiten-emiten tadi didasari oleh penyebab yang sama. Perbedaan taksiran atau estimasi dan kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen. Manajemen lama Indofarma menganggap slow moving inventory tetap bernilai sama dengan nilai bukunya. Manajemen baru beranggapan sebaliknya, inventory tersebut harus dihapuskan. Akibatnya terjadi peningkatan biaya. Aneka Tambang dan Telkom mengalami kasus yang serupa tapi tak sama yaitu kewajiban terhadap karyawan maupun pensiunan karyawannya. Manajemen sudah menetapkan antisipasi besaran biaya untuk karyawan yang akan terjadi, namun dianggap kurang tepat oleh auditor.

Estimasi dan kebijakan manajemen tentang besaran biaya atau pendapatan pada hal-hal tertentu memang diijinkan oleh prinsip akuntansi. Meskipun efeknya jelas yaitu berbedanya biaya atau pendapatan yang dilaporkan. Manajemen yang konservatif akan berusaha mengantisipasi biaya yang akan terjadi dengan melakukan pencadangan yang cukup. Akibatnya laba yang dilaporkan pada tahun berjalan relatif lebih kecil. Sebaliknya, pencadangan yang minimum akan menghasilkan laba lebih besar.

Selain estimasi dan penetapan kebijakan, manajemen juga dapat menetapkan metode metode-metode akuntansi yang akan digunakan. Untuk perhitungan biaya depresiasi, kerusakan inventory, pencadangan piutang tidak tertagih tersedia berbagai metode. Masing-masing metode akan menghasilkan besaran biaya yang berbeda dan tentu saja efek laba yang berbeda.

‘Kelonggaran’ yang diijinkan oleh Prinsip Akuntansi mengharuskan pembaca laporan keuangan emiten untuk hati-hati. Dua emiten yang memiliki hasil usaha yang sama bisa melaporkan laba/rugi yang berbeda karena penggunaan estimasi, kebijakan dan pemilihan metode akuntansi yang berbeda.

Pada sisi yang lain, manajemen memiliki kepentingan atas kinerja perusahaanya. Bila bonus manajemen ditetapkan berdasarkan laba yang diperoleh, maka ia akan berusaha melaporkan laba yang sebesar-besarnya. Untuk itu ia menggunakan estimasi dan pemilihan metode akuntansi yang relatif lunak sehingga laba relatif tinggi. Pada kasus lain, ketika para analis sudah memprediksikan tingkat laba emiten, maka ada kecenderungan manajemen berusaha agar realisasi laba sesuai dengan prediksi analis. Karena bila tidak investor akan bertanya-tanya apa yang terjadi disana. Bahkan pada beberapa kasus hanya untuk menjaga agar laba tidak melonjak-lonjak (smoothing).
Fakta lainnya, pihak manajemen juga memiliki informasi yang superior dibandingkan investor bahkan dibandingkan pemegang saham. Pada kasus Indofarma misalnya, hanya manajemen lama yang tahu kualitas dari inventory tadi. Sehingga hanya mereka yang dapat melakukan estimasi apakah patut dihapuskan atau tidak.

Kewenangan manajemen yang ‘dianugerahkan’ oleh prinsip akuntasi, kepentingan manajemen sendiri serta penguasaan informasi yang superior mendorong dilakukannya praktek-praktek yang disebut Earnings Management (EM). Definisi sederhana dari EM adalah a disclosure management in the sense of purposeful intervention in the external reporting process, with intent of obtaining some private gain (Schipper 1989). Eksistensinya diindikasikan ketika managers use judgement in financial reporting and in structuring transactions to alter financial report to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of the company or to influence cotractual outcomes that depend on reported accounting numbers (Healy,Wahle:1999).

Sampai saat ini pendeteksian EM umumnya lewat komponen yang disebut Discretionary Accrual (DA). Dari serangkaian kebijakan manajemen untuk pencadangan biaya atau disebut Total Accrual, maka terdapat komponen non-DA dan DA. Komponen non-DA tidak dapat dihindarkan. Karena harus dilakukan setiap tahun dan jumlahnya relatif stabil. Termasuk dalam golongan ini adalah pencatatan biaya depresiasi, amortisasi, pencadangan piutang tak tertagih dan sejenisnya.
DA merupakan komponen accrual yang merupakan kewenangan manajemen baik besaran maupun terjadinya. Bila laba dilaporkan meningkat sedangkan tidak ada perubahan signifikan pada cashflow emiten, maka patut diduga manajemen telah menggunakan DA. Karena laba meningkat umumnya diikuti dengan cashflow yang membaik. Bila tidak, maka peningkatan tadi hanya dihasilkan dari komponen-komponen pembukuan saja. Misalnya pencadangan yang mengecil hingga biaya pencadangan menurun dan akhirnya laba meningkat. Tentu saja cashflow tidak terpengaruh dengan tindakan ini.

Praktek EM dirasakan sudah mengkhawatirkan di AS. Arthur Levitt sebagai chairman SEC dalam salah satu pidatonya yang bertajuk Numbers Game menyatakan ‘perang’ terhadap praktek EM. Alasannya, EM menurunkan kualitas informasi laporan keuangan. Ia juga mengecam emiten-emiten yang ‘memasak’ angka-angka laporan keuangannya. Pada saat yang sama, ia juga mengajak pada akademisi dan praktisi untuk lebih giat lagi meneliti dan menemukan metode yang akurat. Tujuannya jelas, meningkatkan kredibilitas pasar modal Amerika.

EM pada prakteknya dapat dideteksi pertama kali oleh auditor. Bila auditor melakukan tugasnya dengan profesional, maka perubahan-perubahan metode, estimasi, kebijakan yang membawa efek signifikan terhadap laporan keuangan tentu harus diungkapkan (disclose) dalam laporan keuangannya. Sehingga laporan keuangan tidak mengecoh (mislead) pembacanya. Termasuk disini penghitungan perkiraan pencadangan biaya yang relatif memadai.

Di Indonesia sendiri penelitian tentang EM masih langka. Untuk emiten yang IPO pada periode 1994-1997 ditemukan adanya indikasi emiten melakukan EM sejak 2 (dua) tahun sebelumnya (Gumanti:2001).Indikasi EM yang kuat untuk emiten yang IPO pada periode 1998-2000 (Manurung : 2003) tidak ditemukan. Sayangnya kedua penelitian belum mengeksplorasi seluruh model-model yang comprehensive. Model-model yang dapat digunakan saat ini antara lain model Healy, DeAngelo, Modified Jones dan Industry model. Umumnya penelitian diatas terhambat dengan keterbatasan data.

Penelitian lain tentang kualitas pengungkapan data-data penting (disclosure) para emiten BEJ menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Dengan menggunakan tolok ukur kecukupan pengungkapan informasi penting di laporan keuangan, maka emiten BEJ secara umum hanya mengungkapkan 41% (Siddharta: 2003) informasi pentingnya. Dengan kata lain, lebih banyak informasi penting yang masih ‘disimpan’ oleh manajemen dibandingkan yang diuangkapkan dalam laporan keuangan emiten.

Pada penelitian EM secara global dengan mengambil obyek pasar modal di dunia, ditemukan bahwa EM marak di pasar modal yang masih berkembang (emerging) dan lebih hebat lagi di negara yang law enforcementnya rendah. Posisi Indonesia senantiasa berada di rangking bawah bersama dengan China (Bhattacharya dkk:2002).

Kesimpulan
Kasus-kasus ‘koreksi’ laba diatas ditambah lagi dengan hasil penelitian global mengindikasikan adanya praktek-praktek EM di pasar modal Indonesia. Untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal dan melindungi investor, maka sudah saatnya otoritas pasar modal memulai upaya penelitian tentang EM di pasar modal Indonesia. Upaya ini bisa dimulai dengan mengajak akademisi dan praktisi untuk bekerja sama sehingga model yang terbentuk dapat diaplikasikan untuk pasar modal Indonesia.

Sejalan dengan upaya tadi, profesionalisme auditor juga perlu ditingkatkan. Termasuk kompetensi teknis untuk mendeteksi adanya potensi EM. Tentu saja termasuk kemauan untuk ‘memaksa’ manajemen mengungkapkannya di laporan keuangan. Pada akhirnya ketika investor mendapat informasi dari laporan keuangan, maka informasi tadi diharapkan sudah merupakan informasi yang menyeluruh, yang memberikan gambaran mengenai kondisi sebenarnya dari emiten. Bukan yang mengandung unsur-unsur kebijakan, estimasi dan pemilihan metode-metode akuntansi yang tidak realistis

0 Comments:

Post a Comment

<< Home