Thursday, December 15, 2005

rasionalitas kenaikan tarif jalan tol

Tarik ulur mengenai kenaikan tarif tol masih berlangsung. Berlandaskan UU no......pengelola diberikan hak untuk melakukan kenaikkan tarif secara berkala. Sayangnya ketika klausul tersebut diberlakukan tidak berarti seluruh pihak menerimanya. Konsumen terutama menolak keras dengan alasan pelayanan yang tidak memuaskan.

Setiap kali kenaikan tarif tol terjadi, operator selalu menjanjikan perbaikan pelayanan. Sayangnya janji ini tidak pernah dinyatakan dalam satuan kuantitatif. Sehingga sulit untuk dinilai apakah pelayanan sudah membaik atau hanya sekedar lips service belaka. Akibatnya, ketika kenaikan berikutnya diusulkan, kosumen kembali ‘teringat’ pada janji sebelumnya dan membandingkan dengan pengalaman sehari-hari. Ketika tidak ada yang berubah, maka jelas kenaikan tarif akan ditolak.

Dua hal penting yang senantiasa dimajukan sebagai alasan kenaikan tarif tol. Pertama adalah berdasarkan UU dimungkinkan kenaikan tarif karena efek inflasi. Kedua, untuk memberikan insentif kepada para investor agar mau berinvestasi di pembangunan jalan tol. Disamping itu, masih ditambah embel-embel bahwa biaya pemeliharaan makin meningkat setiap tahunnya.

Inflasi

Inflasi merupakan momok bagi siapa saja yang memiliki pendapatan yang berjumlah tetap. Bagaimana tidak, dengan jumlah nominal pendapatan yang sama, daya belinya (purchasing power) menjadi semakin kecil atau melemah. Untuk itulah bagi setiap pemilik kapital diberikan return berupa bunga. Bunga merupakan instrumen untuk menjaga daya beli kapital. Dengan demikian ia memiliki hubungan positif dengan tingkat inflasi. Dengan kata lain, jika tingkat inflasi meningkat, maka tingkat suku bunga akan meningkat pula.

Investor selalu membandingkan tingkatan suku bunga dengan tingkat pengembalian investasinya. Ketika inflasi meningkat dan suku bunga meningkat, maka required return dari investasi tersebut akan lebih tinggi. Ketika investasi tadi ternyata tidak dapat memenuhinya, maka ia akan mencari instrumen investasi lain yang memberikan return lebih tinggi resiko sama atau return sama dengan resiko lebih rendah. Kalau mungkin bahkan bebas resiko.

Lemahnya rasionalitas inflasi dengan kenaikan tarif tol dapat dilihat dari dua sisi. Pertama dari data keuangan operator yaitu PT Jasa Marga dan PT Citra Marga Nusaphala Persada. Keduanya menunjukkan rata-rata kenaikan pendapatan selama 5 (lima) tahun terakhir sebesar ...%. Profit Margin keduanya adalah ...%.

Fakta ini memberikan gambaran bahwa dari kegiatan utama mereka yaitu menyediakan jasa jalan tol, diperoleh keuntungan sebesar ...% dari pendapatan. Karena profit margin sudah memperhitungkan penyusutan jalan, maka dalam jangka waktu tertentu, disamping margin setiap tahun, dana pembangunan awal akan kembali lagi (sebagai mana ditunjukkan oleh nilai akumulasi penyusutan jalan). Data ini dapat dibaca bahwa keuntungan yang diberikan setiap tahun kepada investor sudah berada diatas required of return yang direpresentasikan oleh suku bunga bank (berkisar pada angka dibawah 10%).

Pendekatan lain adalah dari cashflow. Teknik analisa kinerja keuangan akhir-akhir ini sudah bergeser ke arah analisa cashflow. Intinya, profit margin boleh saja rugi. Tetapi sepanjang cashflow dari operasi masih positif, berarti bisnis masih ‘untung’ dan layak dijalankan terus. Ide dasarnya, bila masih ada selalu selisih kas positif, maka kelebihan inilah yang bisa dianggap sebagai penggantian nilai investasi.
Kedua operator mencatat cashflow yang positif, bahkan setelah dikurangi dengan kewajiban membayar hutang-hutang pun masih positif. Hal ini dapat dimengerti karena karakteristik bisnis jalan tol yang unik. Pendapatan datang setiap hari dan tunai, biaya baru muncul akhir bulan. Disamping itu tidak ada marketing expenses.

Kedua dari unsur pembentuk nilai inflasi itu sendiri. Seperti sudah diketahui, inflasi juga disumbang oleh kenaikan harga di sektor transportasi. Dengan kenaikan tarif tol, maka justru akan terjadi kenaikan dalam biaya transportasi. Tentu adalah aneh jika inflasi dijadikan sebagai landasan bagi kenaikan tarif tol padahal justru dengan kenaikan itulah inflasi akan naik, terutama di kota-kota besar. Meskipun dalam besaran yang berbeda-beda.

Kepentingan investor

Dengan kenaikan tarif berkala, tentu memudahkan investor untuk memperhitungkan kelayakan investasi di awal masa proyek. Investasi jalan tol dalam operasionalnya memiliki resiko berupa tarif tidak sesuai dengan yang diasumsikan semula, terutama kenaikan tarif berkala. Resiko lainnya adalah jumlah kendaraan yang lebih rendah dibandingkan asumsi semula. Investor tentu akan berusaha meminimalkan resikonya. Dengan demikian dapat dimengerti jika kenaikan tarif berkala memang memberikan sinyal positif. Resiko yang dihadapi investor berkurang satu yaitu tarif.

Namun perlu juga diperhatikan kepentingan masyarakat banyak. Jalan tol tidak dapat dianggap sebagai komoditas biasa. Masyarakat Jakarta misalnya tidak punya pilihan lain selain lewat jalan tol karena jalur arterinya sudah macet luar biasa. Sedemikian hingga jalan tol sudah dianggap sebagai jalur ‘normal’. Berapapun tarifnya, terpaksa harus melalui jalan tol.

Disamping itu perlu diingat, salah satu dari kewajiban pemerintah adalah menyediakan infrastruktur termasuk jalan. Jadi tidak adil jika jalan tol diserahkan pada mekanisme persaingan pasar dimana kepentingan investor dan masyarakat dibenturkan pada tarif tol.

Pengelolaan per ruas jalan.

Kemelut tarif ini antara lain muncul dari cara penyajian yang tidak tepat. Publik ditunjukkan kinerja keuangan perusahaan pengelola, yang merupakan gabungan ruas-ruas jalan tol. Seharusnya informasi yang ditunjukkan dalah kinerja per ruas jalan tol. Akibat dari cara penyajian ini, meskipun ruas jalan tol Jagorawi diatas kertas sudah mencapai titik impas dan hanya memerlukan biaya pemeliharaan, namun tarifnya tidak pernah turun. Demikian juga meskipun pengelolanya selalu menunjukkan keuntungan setiap tahun namun tarif tetap perlu dinaikkan. Karena alasannya cukup sahih. Investasi ruas baru ‘dibiayai’ dengan ‘keuntungan’ dari ruas lain, lalu biaya pemeliharaan yang meningkat. Tanpa dinyatakan berapa besaran per ruas nya.

Pemerintah menikmati kondisi ini dengan terus memungut dividen dari BUMN pengelola jalan tol. Padahal seharusnya penyediaan infrastruktur merupakan kewajibannya. Jadi dari nilai penyusutan setiap tahun pemerintah akan menerima kembali investasi awalnya. Masih juga ditambah dengan keuntungan setiap tahun dalam bentuk dividen.

Pemisahan entitas pengelola per ruas jalan menjadi penting dan memiliki beberapa keuntungan. Pertama, per ruas jalan dapat dihitung nilai investasi yang diperlukan , potensi kendaraan yang akan masuk dan biaya pemeliharaan. Dengan memperhitungakn metode pendanaanya maka tarif selama masa pencapaian titik impas dapat ditetapkan dengan pasti. Demikian pula tarif pasca titik impas yaitu tarif yang cukup untuk biaya pemeliharaan saja.

Kedua, tidak terjadi ‘subsidi silang’ atas ruas-ruas jalan tol. Dengan kata lain jalan tol yang memang sudah mencapai titik impas tarifnya harus turun. Dengan tarif yang sudah ditetapkan dimuka dan tidak terjadi subsidi silang, maka resiko yang tersisa bagi investor adalah tidak tercapainya jumlah kendaraan yang menggunakan jalan tadi. Ini resiko bisnis dan tidak perlu dihilangkan. Investor jalan tol sebagaimana investor lain tentu tidak harus selalu untung.

Ketiga, tidak ada ruas jalan yang menikmati keuntungan ‘super normal’. Setiap ruas hanya akan menikmati keuntungan sebesar required return dari modal yang diinvestasikan saja. Tidak seperti kondisi saat ini yang dinikmati pengelola jalan tol. Ketika titik impas tercapai, tentu tarif yang diberlakukan justru hanya cukup untuk biaya pemeliharaan saja.

Dengan demikian transparansi pengelolaan infrastruktur publik ini menjadi trasparan dan jelas. Tidak perlu lagi setiap kenaikan tarif dihabiskan energi untuk berdebat dan berpolemik. Karena ketika ruas jalan dinyatakan dibuka dan akan ditender sudah jelas berapa nilai investasi, besaran tarif dan jadwal penyesuaian serta jangka waktu tarif tersebut hingga mencapai titik impas, untuk kemudian dihitung tarif pemeliharaan saja.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home