Wednesday, December 14, 2005

RESENSI 01 - regulasi atau deregulasi

Judul Terjemahan :
Sang Maestro Teori-teori Ekonomi Modern- Sejarah Pemikiran Ekonomi
Judul Asli :
The Making of Modern Economics, The Lives and Ideas of Great Thinkers
Pengarang :
Mark Skousen
Penterjemah :
Tri Wibowo Budi Santoso
Penerbit :
Prenada Media, Jakarta
Tahun terbit : 2005, Edisi 1, Cetakan 1,
564 Halaman



Ketika produk-produk impor dari China berdatangan, muncul kekuatiran akan matinya produsen lokal. Untuk itu, pemerintah diminta melakukan intervensi dalam bentuk tarif masuk atau bahkan larangan impor. Pada beberapa komoditi, pemerintah menghadapi dilema mengenai perlu tidaknya barrier diterapkan. Liberalisasi pasar akan membawa keuntungan bagi konsumen berupa kualitas produk atau harga yang lebih murah. Kerugiannya, produsen lokal yang tidak efisien akan punah. Sebaliknya, dengan hambatan pasar, produsen lokal meraih keuntungan atas ‘penderitaan’ konsumen.

Situasi dilematis ini bukan merupakan hal baru. Sejak lama para pemikir sudah mencita-citakan peningkatan kesejahteraan umat manusia lewat teori-teori ekonomi. Beberapa teori justru berseberangan. Termasuk dalam hal kebebasan pasar. Tiga tokoh mewarnai sejarah teori ekonomi adalah Adam Smith, Karl Marx serta Keynes. Tokoh-tokoh lain berada pada titik-titik antara dalam lompatan pemikiran-pemikiran ini.

Dimulai dari terbitnya The Wealth of Nation tahun 1776. Adam Smith yang dikenal dengan teori kebebasan ilmiah serta invisible hands nya mendorong perubahan cara meraih kemakmuran dari pola merkantilisme menjadi pola produksi. Profesor Skotlandia ini percaya bahwa kunci dari kemakmuran adalah kombinasi dari freedom, self-interest dan competition. Laissez faire yang aslinya berarti biarkan kami sendiri, merupakan ekspresi dari para pengusaha kapitalis. Pemerintah tidak perlu ikut campur dalam perdagangan.

Tantangan datang pada pertengahan abad 19 ketika Karl Marx mengungkapkan eksploitasi dan alienasi di kalangan kaum buruh industri. Tokoh yang jadi idola pemikiran anak muda ini ternyata sangat dipengaruhi oleh sahabatnya, Hegel. Cara pandangnya berbeda terhadap konsep kapital. Teori nilai kerjanya menganggap bahwa justru tenaga kerja sebagai ‘kapital’ yang harus memperoleh keuntungan, bukan pemilik kapital itu sendiri. Prediksinya, kapitalisme akan membuat kesejahteraan memburuk.
Kedua teori besar ini bukannya tanpa kelemahan. Depresi tahun 1930 menohok dengan telak dunia kapitalisme pasar bebas. Sebelumnya, prediksi Marx tidak terbukti di banyak negara Eropa. Ditambah lagi dengan kebangkrutan Negara Sovicet tahun 1990 an. Persis sebagaimana prediksi Hayek dan Von Mises dari kubu kapitalis.

John Maynard Keynes muncul dengan hipotesa ketidakstabilan finansial dalam sistem kapitalis dimana intervensi pemerintah di arena moneter dan fiskal wajib dilakukan Namun Keynes tidak mensyaratkan nasionalisasi dan kontrol mikro atas supply dan demand seperti aliran Marx.

Keynesian menyandingkan teori ekonomi dengan matematika yang kelak berkembang menjadi ekometri. Muncul terminologi baru seperti multiplier, aggregat demand dan persamaan C+I+G yang terkenal.

Makna sejarah pemikiran ekonomi

Buku ini merupakan kumpulan pemikiran para tokoh-tokoh ekonomi yang dirangkum dalam suatu seri urutan perjalanan sejarah. Dari dalamnya kita dapat melihat bagaimana dinamika dialektika antar para pemikir. Diantara ketiga tonggak besar pemikir diatas, berbaris rapat teori-teori lainnya yang saling mendukung,memperkaya dan menjatuhkan. Dinamika itu masih terjadi sampai sekarang.

Setting para tokoh dilukiskan di Eropa serta belakangan di Amerika. Namun bukan berarti bahwa pikiran dibelahan negara lain diabaikan. Upaya pengumpulan sudah dilakukan. Dengan berat hati harus dikatakan bahwa di bagian lain memang sangat langka dialektika gagasan. Hal yang sama bisa kita rasakan saat ini di Indonesia. Ekonom diluar kedua pakem besar ini sangat jarang. Almarhum Prof Mubiyarto mungkin salah satunya dengan aliran ekonomi Panca Sila.

Sejak awal pendidikan ekonomi di perguruan tinggi ‘langsung’ diajak ke dunia Keynes. Buku ajar Paul Samuelson ‘Economics’ yang legendaris atau karangan Lipsey sudah menjadi pengantar perkenalan dengan dunia ekonomi. Akibatnya para mahasiswa terjejali dengan satu aliran saja, Keynesian.

Buku ini, bila disajikan sebagai pengantar kuliah ekonomi, dapat memperkaya pola pikir para mahasiswa. Liberalisasi pasar untuk banyak kasus justru tidak mendorong kemakmuran. Sebaliknya sosialisme pun demikian. Kapital yang ditaruh sebagai modal kedua dibandingkan tenaga kerja amat tidak realistis untuk mendukung teknologi produksi yang lebih efisien. Tonggak satu lagi, Keynes, tidak juga dapat diberlakukan seperti apa adanya di Indonesia. Intervensi pemerintah tidak otomatis mampu memberikan impak yang dibayangkan. Sebagian karena porsi atau timing yang tidak tepat. Sebagian lain mungkin karena munculnya variabel unik yang tidak terantisipasi.

Kekayaan pemikiran inilah yang menjadi nilai lebih dari serial perjalanan teori-teori ekonomi.Dengan demikian diharapkan penganut fanatik suatu aliran teori, yang beranggapan bahwa teorinya yang paling cocok untuk diimplementasikan di Indonesia, akan berpikir dua kali. Karena sejarah menunjukkan jatuh bangunnya aliran-aliran tadi dalam perjalanan waktu.

Setiap tokoh dibahas menurut urutan waktu. Pembahasannya selalu terdiri dari sisi humanisnya dan teori yang diajukannya. Termasuk pula bahasan mengenai kehidupan pribadi dan tingkah eksentriknya. Misalnya, Keynes gemar melihat telapak tangan setiap lawan bicaranya. Tentu bukan karena ia tidak percaya pada invisible hands nya Smith. Atau tentang Irving Fisher, akademisi yang sempat kaya raya justru karena paten rolodexnya. Namun ironisnya ia justru bangkrut dan merana hingga akhir hayatnya karena kejatuhan pasar modal tahun 1929.

Meskipun terjemahan yang dilakukan cukup baik, namun beberapa istilah masih terkesan dipaksakan seperti Crown of the Jewel yang diterjemahkan sebagai Mahkota Permata (hal 23). Penggunaan bahasa populer cukup membantu terutama bagi yang tidak memiliki latar belakang ekonomi. Dari buku ini intisari hampir seluruh teori-teori ekonomi yang ada dapat ditelusuri.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home