Thursday, December 15, 2005

underpricing di bursa efek jakarta, fakta dan analisa

Pendahuluan

Initial Public Offering (IPO) atau go public merupakan keputusan penting dalam suatu perusahaan. Ketika diputuskan untuk menjual sebagian saham perusahaan kepada investor lewat pasar modal, maka serangkaian biaya harus ditanggung oleh calon emiten baik biaya langsung maupun tidak langsung.

Biaya langsung yang terkait dengan IPO adalah floating cost, yang merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan sampai saham diperdagangkan di pasar sekunder. Biaya ini adalah fee untuk underwriter, fee untuk jasa penunjang pasar modal seperti ahli hukum, notaris, appraisal dan akuntan publik serta listing fee yang dibayarkan ke pasar modal.

Tergolong sebagai biaya tidak langsung antara lain biaya transparansi. Terkait dengan transaparansi emiten maka timbul kewajiban untuk menyampaikan pelaporan secara periode, melakukan ekspose ke publik untuk tindakan-tindakan penting perusahaan serta pemenuhan kelengkapan organisasi dengan komisaris independen, pembentukan komite audit serta penyiapan sekertaris perusahaan (corporate secretary).

Disamping biaya-biaya diatas, masih ada lagi biaya yang harus ditanggung yaitu underpricing. Secara sederhana, underpricing dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara value atau nilai perusahaan yang sesungguhnya dengan nilai yang diperoleh oleh pemegang saham lama. Nilai perusahaan sesungguhnya diproxykan antara lain oleh harga penutupan saham tersebut pada hari pertama bursa. Nilai yang diterima oleh pemegang saham lama tentunya nilai penawaran saham (offering price) yang merupakan harga yang sudah disepakati bersama dengan underwriternya dengan memperhatikan berbagai factor.

Underpricing merupakan salah satu anomali dalam kajian-kajian IPO karena dengan informasi yang sudah terbuka lewat prospektus, masih terjadi perbedaan nilai saham antara investor dengan emiten. Underpricing terjadi secara global diberbagai pasar modal, baik developed market maupun emerging market seperti Indonesia dengan kecenderungan dipasar yang kedua lebih besar sebagaimana disajikan dalam perbandingan dibawah ini.

Negara
Periode IPO
Sampel emiten
Underpricing
Amerika Serikat
1960 – 2001
14,840
18,4 %
Inggris
1959 – 2001
3,122
17,4 %
Thailand
1987 – 1997
292
46,7 %
Singapura
1973 -2001
441
29,6 %
Malaysia
1980 – 1998
401
104,1%
Filipina
1987 – 1997
104
22,7 %
Indonesia
1989 – 2001
237
19,7 %
Dikutip dari : Initial Public Offerings : International Insights, Loughran T, Jay R Ritter dan Kristian Rydqvist ,Pasific Basin Finance Journal , June 2003

Di Bursa Efek Jakarta (BEJ) terjadi underpricing sebesar rata-rata 19,7%, yang berarti pemegang saham lama kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil IPO (IPO proceed) karena oferring price yang lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama saham tersebut diperdagankan di pasar modal. Hasil penelitian terbaru untuk periode 1995 – 2004 rata-rata underpricing menurun menjadi 14,19%.

Proses IPO melibatkan beberapa pihak yaitu emiten sebagai issuer, investment bankers , lembaga penunjang pasar modal serta otoritas pasar modal dan tentunya investor di pasar modal. Investment banker bertindak dalam 3 (tiga) peran yaitu sebagai advisor atau penasihat untuk proses IPO, underwriter atau penjamin dari penjualan saham tersebut di pasar perdana dan agen penjual untuk transaksi (jual dan beli) di pasar sekunder.

Masing-masing pihak memiliki motif yang berbeda dan ia akan bertindak berdasarkan kepentingannya. Issuer sebagai pemilik saham lama tentu ingin memperoleh harga setinggi-tingginya untuk saham yang dijual pada pasar perdana agar agio (additional paid-in capital) semakin besar.

Underwriter berkepentingan agar saham yang dijamin penjualannya terjual habis dan bahkan pesanan melebihi jumlah yang akan dijual (oversubscribe). Dengan hal ini, pertama, reputasinya akan semakin baik dimana calon emiten berikutnya karena saham yang diunderwritenya senantiasa oversubscribe, kedua ia terhindar dari kewajiban untuk membeli saham yang tidak laku terjual. Untuk jasanya ini, ia memperoleh underwriter fee yang merupakan fungsi dari reputasinya dan besaran nilai IPO.

Investor dengan segala informasi serta pengetahuan yang dimilikinya akan berusaha mendapatkan saham perusahaan yang overvalued, artinya saham dimana nilai yang sebenarnya lebih tinggi atau maksimal sama dengan harga yang ditawarkan. Tujuannya agar ia dapat memaksimalkan return investasinya.

Perkembangan teori dan penelitian

Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui mengapa dan faktor yang mempengaruhi terjadinya underpricing sejak tahun 1970-an. Penelitian-penelitian ini pada umumnya mengasumsikan bahwa investor tidak memiliki pengetahuan mengenai perusahaan yang akan go public, sehingga muncul ketidakpastian (uncertainty) tentang nilai sahamnya kedepan. Disamping itu, asumsi lain adalah adanya ketidaksetimbangan kepemilikan informasi diantara pihak-pihak yang terlibat (assymetric information). Sehingga investor berusaha untuk menggunakan informasi lain yang dianggap dapat mengurangi tingkat kesenjangan informasi ini.

Beberapa hipotesis utama dan perkembangannya dibahas dibawah ini dimulai dari Adverse Selection Theory–Winner curse (Rock:1986). Teori ini menyatakan bahwa investor terbagi atas dua golongan besar yaitu investor yang informed dan uninformed, dimana masing-masing memiliki expected value. Bila offering price lebih kecil dari expected value, maka mereka akan membeli saham tadi. Sayangnya, uninformed senantiasa menderita ‘rugi’ karena ketika saham dijual dibawah expected value, maka informed investor juga memesan, akibatnya terjadi penjatahan dan uninformed akan menerima lebih sedikit saham dibanding jumlah yang dipesan.
Sebaliknya, ketika offering price diatas expected value, uninformed justru akan memperoleh seluruh saham yang dipesan dan informed investor tentu tidak akan melakukan pemesanan. Untuk menjaring sebanyak mungkin investor agar memesan saham di pasar perdana, issuer secara sengaja membuat uninformed investor juga memperoleh kesempatan yang sama dalam pemesanan saham lewat offering price yang lebih rendah dari expected valuenya. Sehingga terjadi kesempatan yang kurang lebih sama bagi uninformed investors dan pada akhirnya akan meningkatkan jumlah pesanan saham.

Beatty dan Ritter (1986) juga menggunakan model diatas, tentang ketidakpastian (uncertainty) atas value perusahaan. Uninformed investor memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi daripada informed investor. Untuk itu, mereka akan meminta agar harga ditetapkan lebih rendah untuk menghasilkan return yang lebih tinggi untuk digunakan mengkompensasi tingkat ketidakpastian mereka.

Allen dan Faulhaber (1989) menawarkan model yang sedikit berbeda diinspirasikan oleh penelitian Ibboston (1975) yang kerap disebut sebagai leave a good taste hypothesis. Issuer berusaha ‘memberitahu’ investor tentang value dari perusahaannya yang baik. Caranya dengan menerbitkan saham sedikit, merendahkan harga penawaran sehingga terjadi underpricing. Dengan demikian investor akan memperoleh return yang tinggi dan memberikan pengalaman baik bagi investor. Hal ini sengaja dilakukan karena issuer memiliki rencana untuk melakukan second offering. Pengalaman ini akan membuat penawaran berikutnya akan diburu investor. Model ini dimodifikasi untuk kondisi sebaliknya (bad companies) oleh Welch (1989). Namun keduanya memiliki persamaan bahwa underpricing adalah mekanisme untuk memfasilitasi penawaran saham berikutnya ke pasar.

Underpricing juga dapat dilihat sebagai kompensasi bagi investor atas pengeluaran biaya untuk memperoleh informasi tentang calon emiten yang disebut sebagai reducing monitoring hypothesis (Booth dan Chua :1996, Brenan dan Franks:1997) sehingga underpricing berkorelasi positif dengan biaya perolehan informasi ini. Untuk informasi ex-post investor menggunakan proxy reputasi underwriter bersama dengan besaran IPO dan mekanisme IPO (best offer atau fixed price re-offer).

Konflik kepentingan antara underwriter dengan issuer juga merupakan faktor yang mendorong terjadinya underpricing (Baron dan Homstrom:1980, Baron :1982). Underwriter dalam model ini memiliki informasi tentang pasar dan permintaan saham yang tidak dimiliki oleh issuer. Untuk itu, issuer mendelagasikan penetapan harga perdana kepada underwriter, dengan harapan bahwa underwriter akan berbuat yang terbaik untuknya. Sebagai kompenasinya, issuer menerima penetapan harga yang lebih rendah dari value sebenarnya, karena semakin memudahkan kerja underwriter dalam memasarkan sahamnya.

Masih tentang penguasaan informasi pasar, pada tahap pre-marketing IPO, underwriter mengharapkan informasi dari calon investor tentang rentang harga yang dapat diterima oleh mereka. Masalahnya investor yang mau memberikan informasi ini haruslah diberikan appresiasi berupa penetapan harga yang lebih rendah agar terjamin bahwa investor tadi akan merealisasikan pembeliannya pada tahap marketing IPO seperti argumen Benveniste dan Spindt (1989).

Assymetric information juga terjadi antara issuer dengan investor, untuk itu issuer menggunakan reputasi underwriternya untuk mensertifikasi kualitas dari perusahaannya (Caster dan Manaster:1990, Megginson dan Weiss:1986, Johnson dan Miller: 1980). Sebagai kompensasi, penetapan harga yang lebih rendah diterima oleh issuer untuk keuntungan underwriter.

Selain relasi antar pihak yang terlibat, underpricing juga ditemukan berkaitan dengan kondisi pasar modal. Pada periode dimana terdapat banyak emiten yang melakukan IPO (hot and cold issue), ditemukan tingkat underpricing yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode dimana sedikit perusahaan yang IPO (Ritter:1984).

Penelitian-penelitian pada tahun-tahun terakhir lebih banyak pada aftermarket liquidity seperti pada Ellul dan Pagano(2003). Demikian juga temuan yang diajukan oleh Boehmer dan Fishe(2000) tentang stock flipping yang menemukan bahwa underpricing sengaja diciptakan oleh underwriter untuk menarik low valuation investor ikut memesan sehingga terjadi penjatahan. Pada saat ini underwriter kemudian akan tetap memberikan jatah kepada low valuation investor karena yakin bahwa saham tersebut akan segera dijual pada pasar sekunder.

Terkait dengan likuiditas saham pasca IPO, gejala ‘korupsi’ lewat underpricing juga mulai diteliti. Ditengarai underwriter menjalin komitmen khusus dengan kliennya untuk bertransaksi pasca IPO. Caranya antara lain, underwriter akan ‘menekan’ harga IPO serendah mungkin sehingga ketika kliennya memesan, maka ia akan memperoleh keuntungan di pasar sekunder. Sebagai kompensasinya, underwriter akan memperoleh ‘hak’ untuk membeli saham lain dari kliennya dengan harga khusus. Praktek ini dilarang oleh SEC namun pernah terjadi kasus demikian (Loughran dan Ritter:2002)

Beberapa penelitian juga secara khusus menguji hipotesa-hipotesa diatas di pasar modal negara berkembang seperti China (Su dan Fleisher:1997), India ( Ghosh:2000), Brazil, Chile dan Mexico (Aggarwal dkk:1993), Malaysia, Singapura dan Hongkong (Dawson:1987, Blake dan Freris:1997, Othman Yong:1991, Shamser Mohammad dkk:1993). Secara umum hasilnya tidak konsisten, beberapa faktor ternyata tidak terbukti mendorong terjadinya underpricing, sebaliknya faktor tertentu ternyata terbukti. Ditambah lagi dengan karakteristik regulasi yang berlaku di masing-masing pasar modal yang menyulitkan pengambilan kesimpulan antar satu pasar modal dengan yang lainnya.


Underpricing di Indonesia

BEJ tergolong sebagai pasar modal yang masih berkembang sesuai dengan kriteria yaitu rasio antara kapitalisasi pasar modal relatif terhadap total Produk Domestik Bruto suatu negara. Underpricing pun terjadi setiap tahun dan untuk masing-masing sektor dapat disarikan dalam tabel dibawah ini.




Underpricing di BEJ periode IPO 1995-2004 per sektor industri


Sektor
Closing Price
Offering Price
Underpricing
Aneka industri
11,050
10,040
10.06%
Barang Konsumsi
11,085
9,550
16.07%
Industri dasar dan Kimia
18,605
15,790
17.83%
Infrastruktur, utilitas dan transportasi
12,540
12,700
-1.26%
Keuangan
26,095
22,700
14.96%
Perdangangan, jasa dan investasi
26,665
22,409
18.99%
Pertambangan
9,460
8,965
5.52%
Pertanian
7,860
7,250
8.41%
Properti dan real-estate
15,745
12,420
26.77%

139,105
121,824
14.19%


Penelitian untuk menguji hipotesa-hipotesa diatas masih sangat sedikit. Beberapa diantaranya adalah Nasirwan (2002) yang menemukan bahwa reputasi underwriter berhubungan negatif dengan underpricing untuk periode penelitian 1989-1996, sekaligus mengkonfirmasi hasil penelitian sejenis di pasar modal lain. Namun penelitian yang dilakukan oleh penulis, untuk periode yang berbeda yaitu periode 1995-2004 justru menunjukkan hasil sebaliknya yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antar faktor tadi. Penelitian lain oleh Trisnawati (1998) dan Nurhidayanti and Indirantoro (1998) tentang faktor reputasi juga menunjukkan hasil yang tidak konsisten, meskipun periode penelitiannya yang relatif amat pendek yiatu hanya 1 (Satu) tahun.

Penelitian lain yang terkait adalah tentang pemilihan metode-metode akuntansi oleh emiten sebelum terjadinya IPO yang yang ternyata memiliki pengaruh pada tingkat underpricing di BEJ (Ali dan Hartono: 2003).

Diduga, terdapat beberapa anomali tentang teori-teori yang dibangun tentang underpricing dari pasar modal yang sudah maju. Salah satunya adalah teori tentang ketidakpastian (uncertainty), besaran nilai IPO dan reputasi underwriter.
Pada kasus IPO perusahaan milik negara (BUMN) di BEJ penelitian yang dilakukan oleh penulis menemukan underpricing sebagai berikut :








Underpricing pada BUMN yang terdaftar di BEJ




Nomor
Kode
Nama emiten
IPO price
closing price
underpricing (dalam jutaan rpa)
%
1
ANTM
ANEKA TAMBANG TBK
1400
1400
-
0%
2
BBNI
BNI (PERSERO) TBK
850
1250
1,718,691
47%
3
BBRI
BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK
875
975
1,164,700
11%
4
INAF
INDOFARMA TBK
250
230
(61,938)
-8%
5
ISAT
INDOSAT TBK
7000
8475
1,527,363
21%
6
KAEF
KIMIA FARMA TBK
200
210
55,540
5%
7
PGAS
PERUSAHAAN GAS NEGARA TBK
1500
1550
216,049
3%
8
PTBA
TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM TBK.
575
600
53,288
4%
9
SMGR
SEMEN GRESIK ( PERSERO) TBK
7000
5050
(289,162)
-28%
10
TINS
TIMAH TBK
2900
2925
12,583
1%
11
TLKM
TELKOM (PERSERO)
2050
2100
466,667
2%
12
BMRI
BANK MANDIRI TBK
675
850
3,465,000
26%
13
ADHI
ADHI KARYA
150
185
15,446
23%





8,344,226
12%

BUMN yang go public memiliki karakter yang berbeda dengan emiten lainnya. Beberapa karakter khusus tadi antara lain penguasaan pasar yang relatif monopolistik atau pemain utama di pasarnya, ukuran IPO yang besar dan underwriternya berreputasi tinggi. Keseluruhan karakter tadi ternyata tidak mampu mengurangi derajat ketidakpastian investor, sehingga masih terjadi underpricing dimana pemerintah sebagai pemegang saham tentu harus membayar ‘biaya’ ini. Bila demikian faktanya, hipotesa tentang ketidakpastian tentu harus diuji ulang untuk kasus di BEJ.

Dugaan lain untuk kasus BUMN ini adalah likuiditas pasar pasa IPO dimana underwriter berkepentingan agara saham tadi likuid diperdagangkan dan ia memperoleh transaction fee. Bahkan bisa juga terjadi bahwa underpricing terjadi karena underwriter merangkap sebagai fund manager yang tentu saja akan berusaha memperoleh saham-saham yang baik untuk portfolionya.

Pengujian singkat terhadap terhadap hipotesa hot and cold issue di BEJ dapat dilihat pada grafik dibawah ini:


Ketika jumlah emiten yang IPO ada pada periode hot issue yaitu tahun 2000 – 2002 terlihat rata-rata underpricing dalam persen juga meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah IPO. Demikian juga ketika periode cold issue seperti 1995-1999 dan 2003-2004 tingkat underpricing menjadi lebih rendah. Gambaran ini dapat mengkonfirmasi hipotesa hot and cold issue di BEJ untuk periode tahun 1995-2004.

Penelitian singkat oleh penulis untuk periode 1998-2004 menunjukkan adanya hubungan yang positif dan secara statistik signifikan antara underpricing dengan variabel independen market maturity (kematangan pasar) yang direpresentasikan oleh besaran kapitalisasi pasar modal terhadap total GDP per tahun. Hal ini bertolak belakang dengan hipotesa dan kecenderungan tingkat underpricing yang terjadi di berbagai pasar modal lainnya dimana semakin matang pasar modal maka semakin kecil underpricing yang terjadi.

Variabel lain yang ditemukan cukup signifikan pengaruhnya adalah akumulasi return pasar modal (yang diproxykan oleh return dari IHSG) selama 20 hari yang berhubungan positif dengan tingkat underpricing. Artinya ketika IHSG meningkat maka kecenderungan underpricing makin tinggi.
Kedua pengujian menggunakan model regresi unviariate. Ketika dilakukan pengujian seluruh variabel bersama-sama yaitu reputasi underwriter, akumulasi return, besaran IPO, kematangan pasar, afiliasi emiten dengan grup besar, maka justru tidak menunjukkan explanatory power yang cukup tinggi. Diduga terjadi multikolinearitas serta pemodelan yang tidak tepat.

Kesimpulan

Fenomena underpricing sudah sejak lama menjadi perdebatan dalam literatur tentang IPO. Berbagai pendekatan telah dilakukan untuk pertama menerangkan mengapa gejala ini terjadi dan kedua faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya fenomena ini.
Dari berbagai penelitian dapat dikategorikan menjadi dua bagian besar. Pertama penelitian yang fokus pada hubungan antara pihak-pihak yang terkait yaitu calon emiten, underwriter dan investor. Investor menghadapi ketidakpastian tentang nilai sebenarnya dari perusahaan karena data yang disajikan adalah data historis sedangkan ketidakpastian yang dihadapi adalah masa depan.
Kedua penelitian yang fokus pada kondisi diluar hubungan antar pihak diatas. Diantara penelitian yang mencoba mengkaitkan dengan likuiditas saham di pasar sekunder, hot and cold issue dan bahkan penelitian-penelitian tentang pasar yang masih berkembang (emerging market).

Namun keseluruhan penelitian masih belum ada yang dapat menerangkan fenomena ini secara integratif yang ditunjukkan dengan expalanatory power yang tinggi dari model yang ditawarkan. Secara umum penelitian masih menghasilkan kesimpulan parsial yang menguji satu atau lebih faktor saja. Kemungkinan besar dengan sebaran data cross section maka heteroskedastisitas menjadi masalah sehingga ketika dilakukan pengujian multivariate menghasilkan tingkat signifikansi koefisien parameter yang rendah.

Penelitian tentang fenomena ini di pasar modal Indonesia sebagai pasar modal yang masih berkembang sebenarnya masih merupakan ladang yang subur. Penelitian-penelitian yang dilakukan selama ini hanya merupakan replikasi dari penelitian sejenis dari luar negeri bahkan dengan periode penelitian dan sampel yang jauh lebih kecil sehingga diragukan kemampuannya menerangkan gejala underpricing secara luas. Keterbatasan pasar modal (jumlah emiten yang terdaftar serta data electronic yang tersedia) menjadi kendala serius untuk merealisasikan penelitian yang lebih kuat dari sisi data dan sampel.

Daftar Pustaka

Ali,S dan Jogiyanto Hartono, 2003,”Pengaruh Pemilihan Metode Akuntansi terhadap tingkat underpricing saham perdana”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol 6 No.1 Hal 41-53

Allen F.&Faulhabar G.R. (1989): “ Signaling by Underpricing in the IPO Market” Journal of Financial Economics;23:pp-303-23

Allen, F., and G.R. Faulhaber, 1989, Signaling by Underpricing in the IPO Market, Journal of Financial Economics 23, 303-323.

Beatty, R.P., and J.R. Ritter, 1986, Investment Banking, Reputation, and the Underpricing of Initial Public Offerings, Journal of Financial Economics 15, 213-232.

Benveniste, L.M., and P.A. Spindt, 1989, How Investment Bankers Determine the Offer Price and Allocation of New Issues, Journal of Financial Economics 24, 343-361.

Benveniste, Lawrence M., and Paul A.Spindt (1989): “ How investment bankers determine the offer price and allocation of new issues” Journal of Financial Economics 24:pp343-361

Boehmer, E, Raymond Fishe(2000):’’Do underwriters encourage stock flipping? A new explanation for the underpricing of IPOs. searched from http://www.ssrn.com

Booth, J.R., and R. Smith, 1986, Capital Raising, Underwriting and the Certification Hypothesis, Journal of Financial Economics 15, 261-281.

Booth, James R., Lena Chua (1996): “Ownership dispersion, costly information and IPO Underpricing” Journal of Financial Economics 41: pp291-310

Camp Graeme, Robert Munro.(2000) “ Underpricing of IPO in New Zealand: A comparison of the Fixed Price and Book-Building Methods”. Searched from http://www.ssrn.com

Carter, R and FH Dark and A K Singh, 1998, “ Underwriter Reputation, Initial Returns and the Long Run Performance of IPO Stock”. The Journal of Finance Vol LIII No1 (February) pp:285-311

Carter, R and S Manaster, 1990, Initial Public Offerings and Underwriter Reputation”, The Journal of Finance Vol VL pp:1045-1607

Chao Chen , Timothy H Lin ”Hot Issue” Markets: Taiwan Experience” working paper. Searched at http://www.csun.edu/

Ghosh, Saurabh,2002. “ Underpricing of IPOs: The Indian Experience over the last decades”. Searched from http://www.ssrn.com

Grinblatt, M., and C.Y. Hwang, 1989, Signaling and the Pricing of New Issues, Journal of Finance 44, 393-420.

Ibbotson, R.G., and J.F. Jaffe, 1975, “Hot Issue” Markets, Journal of Finance 30, 1027-1042.

Ibbotson, Roger G, Jody L Sindelar and Jay r Ritter (1994):” The Market’s problems with the pricing of initial public offerings” Journal of Applied Corporate Finance, 7:pp 66-74

Johnson J. and Miller, 1988, “Investment Banker Prestige and The Pricing of Initial Public Offerings”, Financial Management 17 (summer) pp 19-29

Karlis, Peter. “IPO Underpricing”, The Park Place Economist vol VIII Searched from http://www.ssrn.com

Logue, D., 1973, Premia on Unseasoned Equity Issues, 1965-69, Journal of Economics and Business 25, 133-141.

Lorenzo, Massimo. Stefano Fabrizio ,2001 . “ Asymetric information and the role of underwriter, the prospectus and the analyst in underpricing IPO. The Italian case; Searched from http://www.ssrn.com

Loughran, T, Jay Ritter, Kristian Rydqvist (2003): “ Initial Public Offerings: International Insights”, Pacific Basin Finance Journal Vol 2, pp:165-199-updated June 2003.

Loughran, T., and J.R. Ritter, 2003, Why Has IPO Underpricing Increased Over Time?, Financial Management, forthcoming.

Megginson, W., and K.A. Weiss, 1991, Venture Capitalist Certification in initial Public Offerings, Journal of Finance 46, 879-903.

Muscarella, C.J., and M.R. Vetsuypens, 1989, A Simple Test of Baron’s Model of IPO Underpricing, Journal of Financial Economics 24, 125-135.

Nasirwan, 2002,”Reputasi Penjamin Emisi, Return Awal, Return 15 hari sesudah IPO dan kinerja Perusahaan satu tahun sesudah IPO di BEJ”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, vol 5 No. 1 halaman 64-84

Nurhidayanti, S dan Nur Indirantoro, 1998,”Analisis Faktro-faktro yang berpengaruh terhadap tingkat underpriced pada penawaran perdana di Bursa Efek Jakarta”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, vol 13, No.1 Hal 21-30

Ritter, J.R., 1984, The Hot Issue Market of 1980, Journal of Business 57, 215-240.

Ritter, J.R., 1991, The Long-Run Performance of Initial Public Offerings, Journal of Finance 46, 3-27.

Ritter, Jay.R. (1984):” The ‘hot issue’ market of 1980” Journal of Business; 57:pp- 215-240

Rock, Kevin. (1986): “ Why new issues are underpriced” Journal of Financial Economics; 15:pp-187-212

Smith, C.W., 1986, Investment Banking and the Capital Acquisition Process, Journal of Financial Economics 15, 3-29.

Su, Dongwei, Belton M Fleisher (1997): “ An Empirical investigation of Underpricing in Chinese IPO’s”. searched from http://www.ssrn.com

Tinic, S.M., 1988, Anatomy of Initial Public Offerings of Common Stock, Journal of Finance 43, 789-822.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home